Alat Musik Toleat dari Kabupaten Subang

Toleat-Kabupaten Subang
Hallo kawan-kawan blogger, setelah pusing mikir mau apa disaat libur latihan teater akhirnya muncul juga ide untuk posting artikel kembali di Rusiahkuring. Kali ini saya gak bakalan ngulas materi akting tapi kita akan berbicara tentang kekayaan budaya negeri tercinta Indonesia. Apa sebab kita harus tahu kalau negeri kita itu sangat kaya dengan budaya lokalnya? Jawabnya supaya kekayaan itu makin kita kenal dan cintai. Jangan sampai terus-terusan diklaim negera tetangga.
 
Nah, pasti kawan-kawan juga sudah pada tahu kalau dari Sabang sampai Merauke bukan hanya berjajar pulau-pulau, tapi berjibun pula kebudayaan tradisional yang tidak kalah menarik dengan budaya-budaya barat yang banyak diadopsi itu. salah satunya tentang ragamnya alat musik yang lahir dari tanah leluhur ini. Alat musik yang punya nilai historis tinggi sebagai peninggalan para leluhur kita. kali ini kita akan membicarakan salah satu alat musik yang berasal dari kabupaten Subang Provinsi Jawa Barat. Namanya Toleat, alat musik yang terbuat dari bambu Tamiang.
 
Asal Mula Toleat
Toleat merupakan alat musik tiup yang lahir dari kawasan pantura Kabupaten Subang. Cikal bakal alat musik ini yaitu diilhami oleh empet-empetan (terbuat dari batang padi siap panen) yang sering dibuat oleh anak-anak gembala di kawasan pantura. Sayang sekali empet-empetan ini hanya bisa dibuat pada waktu panen padi saja, karena bahannya memang terbuat dari batang padi matang. Sepertinya anak-anak gembala tidak mau berhenti dalam kreativitasnya, ketika musim tanampun mereka menciptakan kembali alat musik serupa. Bedanya alat musik ini dengan empet-empetan dalam hal bahan, Ole-olean nama alat musik tiup itu terbuat dari pelapah pepaya. Hanya tetap saja tidak bisa bertahan lama. Paling sampai 2 hari alat itu sudah membusuk.

Toleat pertama kali telah dibuat oleh seseorang peternak yang bernama Parman, ia mempunyai keahlian dalam bermain musik terompet.Parman terinspirasi dari bunya empet-empetan dan ole-olean. kedua alat musik tersebut tidak mempunyai lubang nada bunyi sehingga tidaj banyak menghasilkan variasi nada atau istilah sundanya tuh....henteu norotot hanya mengahasilkan bunyi ole-olean.

Perkembangan Toleat
Toleat pada perkembangannya dibuat dari congo awi atau ujung bambu, dan lidahnya terbuat dari kayu pohon berenuk dan dililit dengan rotan sebagai pamaes. pada perkembangan selanjutnya bahan yang dipakai untuk toleat dibuat dari awi tamiang(bambu intuk suling).
Toleat terdiri dari 8 buah lubang bunyi,1 lubang di bagan bawah dan 7 lagi di bagian atas,dengan tangga nada dasar nerlaras salendro . Nada-nada yang dihasilkan oleh Toleat merupakan adaptasi dari musik terompet.

Fungsi dan Penyajian Toleat

A.Kalangenan
Toleat berfungsi sebagai alat musik Kalangenan atau hiburan pribadi pada saat sedang ngangon atau menggembala lainnya.Toleatbiasanya dimainkan oleh gembala yang sedang menuggu ternak.Toleat sebagai alat musik Kalangenan dalam penyajiannya tidak terdapat lagu khusus,tapi hanya mengandalkan keunikan bunyi yang dihasilkan dari alat musik tersebut.

B.Pintonan
Toleat pada awalnya hanya bisa dipertunujukan pada teman-teman pada kegiatan di sekitar lingkungannya. kemudian dikreasikan dengan alat musik yang lainnya seperti Bumbung, Lodong, dan Celempung.Selanjutnya dapat pula disajikan dalam acara hiburan untuk umu dan acara adat masyarakat seperti Khitanan, Perkawinan, dan acara adat lainnya. Sedangkan lagu-lagu yang sering dibawakan yaitu lagu Ketuk tilu antara lain: Sulanjana, Peuyeum Gaplek,Awi Ngarambat, Dll.pada masa perkembangan Toleat hanya berkembang di Subang namun sekarng sudah berkembang di berbagai daerah dan mancanegara.

Itulah sekilas tentang alat musik Toleat yang makin membuat kita bangga menjadi orang Indonesia. Jangan sampai kita terus kehilangan warisan budaya leluhur karena kita sebagai penerusnya tidak bisa menjaga dan melestarikannya. Mulai dari sekarang mari kita jaga dan lestarikan budaya Indonesia! (CK)

Komposisi Blocking Dalam Teater

Umang-Umang karya Arifin C noer-Teater Lakon UPI 
Yang dimaksud dengan blocking adalah kedudukan tubuh pada saat diatas pentas. Dalam permainan drama, blocking yang baik sangat diperlukan, oleh karena itu pada waktu bermain kita harus selalu mengontrol tubuh kita agar tidak merusak blocking. Yang dimaksud dengan blocking yang baik adalah blocking tersebut harus seimbang, utuh, bervariasi dan memiliki titik pusat perhatian serta wajar.

-    Seimbang
Seimbang berarti kedudukan pemain, termasuk juga benda-benda yang ada diatas panggung (setting) tidak mengelompok di satu tempat, sehingga mengakibatkan adanya kesan berat sebelah. Jadi semua bagian panggung harus terwakili oleh pemain atau benda-benda yang ada di panggung. Penjelasan lebih lanjut mengenai keseimbangan panggung ini akan disampaikan pada bagian mengenai “Komposisi Pentas “.

 UtuhUtuh berarti blocking yang ditampilkan hendaknya merupakan suatu kesatuan. Semua penempatan dan gerak yang harus dilakukan harus saling menunjang dan tidak saling menutupi.
 
Bervariasi
Bervariasi artinya bahwa kedudukan pemain tidak disuatu tempat saja, melainkan membentuk komposisi-komposisi baru sehingga penonton tidak jenuh. Keadaan seorang pemain jangan sama dengan kedudukan pemain lainnya. Misalnya sama-sama berdiri, sama-sama jongkok, menghadap ke arah yang sama, dsb. Kecuali kalau memang dikehendaki oleh naskah. 

Memiliki titik pusat
Memiliki titik pusat artinya setiap penampilan harus memiliki titik pusat perhatian. Hal ini penting artinya untuk memperkuat peranan lakon dan mempermudah penonton  untuk melihat dimana sebenarnya titik pusat dari adegan yang sedang berlangsung. Antara pemain juga jangan saling mengacau sehingga akan mengaburkan dimana sebenarnya letak titik perhatian. 

Wajar
Wajar artinya setiap penempatan pemain ataupun benda-benda haruslah tampak wajar, tidak dibuat-buat. Disamping itu setiap penempatan juga harus memiliki motivasi dan harus beralasan.

          Dalam drama kontemporer kadang-kadang naskah tidak menuntut blocking yang sempurna, bahkan kadang-kadang juga sutradara atau naskah itu sendiri sama sekali meninggalkan prinsip-prinsip blocking. Ada juga naskah yang menuntut adanya gerak-gerak yang seragam diantara para pemainnya.
 
KOMPOSISI PENTAS
            Komposis pentas adalah pembagian pentas menurut bagian-bagian yang tertentu. Komposisi pentas ini dibuat untuk membantu blocking, dimana setiap bagian pentas mempunyai arti tersendiri. Berikut ini adalah skema komposisi pentas.  

7     8     9       
4     5     6       
1     2     3    

PENONTON
          Kadar kekuatan pentas dapat dilihat pada urutan nomornya. Bagian depan lebih kuat daripada bagian belakang. Bagian kanan lebih kuat daripada bagian kiri. Oleh karena itu jangan menempatkan diri atau benda yang kadar kekuatannya tinggi pada bagian yang kuat. Carilah tempat-tempat yang sesuai agar blocking kelihatan seimbang. Walaupun demikian harus tetap dalam batas-batas yang wajar, jangan terlalu dibuat-buat.

Proses Bionarasi Tubuh Terbelah

Sisa hujan siang tadi masih terasa lembab hingga mencipta hamparan kabut tipis di Dalung Nursery. Di tempat itulah selama ini kami ditempa oleh ide-ide liar NA. Seorang sutradara yang militan dan penuh kejutan. Bayangkan selama hampir 2 bulan ini proses pencarian itu terus saja berkembang. Pola gerakan demi gerakan seperti air hujan yang deras, mengucur bercampur dengan keringat yang membasahai tubuh kami.
Seperti biasa, latihan dimulai malam hari karena pada siang hari keadaan cuaca di Dalung Nursery sangat tidak nyaman meski pada ujung hari kerap dihiasi oleh pemandangan senja yang lumayan membuat seseorang tergerak menuliskan puisi. Salah seorang aktor menyiapkan obor-obor yang terbuat dari batok kelapa dan sebagian lagi memeriksa kelayakan stage property untuk meminimalisir accident dalam proses pencarian tubuh. Obor yang berjumlah Sepuluh buah itu diletakan melingkar memebentuk garis imaginer sebagai batas arena pencarian. Sekilas kami terlihat seperti sekelompok orang yang sedang berlatih ilmu kanuragan, sekumpulan orang yang sedang melakukan sebuah ritual untuk menembus dimensi lain alam ini ketimbang terlihat seperti sekelompok aktor yang sedang berlatih teater. Tapi kami tidak pernah peduli, toh bagi kami teater adalah upaya pencarian ‘tubuh’ yang terbelah atau tercecer akibat hantaman keras gelombang modernisasi. Tubuh yang tak lagi utuh, tubuh yang mengalami distorsi tradisi dan dekontruksi moral yang parah. Oleh karena itu kami berada di sini (Dalung Nursery)

Pencarian tubuh itu kami mulai dengan warming up selama hampir Satu Jam. Setelah itu NA sang sutradara mulai memberikan intruksi pencarian. Kelima Aktor Teater Studio Indonesia (TSI) itu mulai bergerak. Properti yang kami gunakan sebagai panggung sekaligus ruang pencarian tubuh itu adalah kontruksi bambu yang dibentuk menyerupai daun bambu. Ukurannya lumanyan besar sekitar 1,5 meter untuk tinggi dan panjang mencapai 3 meter.

Untuk pencarian kali ini lebih menitik beratkan pada peleburan tubuh urban kami dengan pola pengendalian kehendak laku bambu. Bagaimana kami harus mampu berjalan seimbang saling mengerti dengan keinginan ruang (kontruksi bambu) yang terus bergerak sesuai kekuatan alamiah. Tahap pencarian kali ini adalah :

 Mengangkat Ruang
Kelima aktor berdiri melingkar dengan kaki kiri masing-masing aktor berada di belakang sebagai tumpuan beban sekaligus titik poros lingkaran. Sementara tangan kami memegang ujung kontruksi pada bagian belakangnya. Perlahan kami berusaha mengangkat kontruksi itu dengan keceptan yang konstan dan sinergi dengan alam. Kecepatan yang tidak boleh saling tabrakan dengan detak jantung dan udara dingin Dalung Nursery. Beberapa kali kami gagal karena kontruksi terus oleng ke kiri atau ke kanan. Tapi NA selalu memberikan pemahaman “Hindari keinginan untuk menguasai, tapi kalian harus saling memahami keinginan kontruksi”

Memutar Ruang
Kontruksi diputar menyerupai roda-roda. Sementara tubuh kami berusaha bersatu dengan urat-urat kontruksi, hingga meminimalisir nilai artifisial dari tubuh-tubuh manusia. Aktor terus berjalan tanpa arah. Membiarkan kontruksi membawa kami pada ruang-ruang lain. Sampai tertahan pada sebuah titik diantara lingkar cahaya obor. Dari titik itulah kami menentukan poros untuk memutar kontruksi. Putaran yang harus kami ikuti tanpa ada perlawanan apapun dari kehendak tubuh. 
  
 Membuat Pola Kontruksi
Ini bagian yang paling mengesankan bagi para aktor. Kami dituntut untuk membangun bentuk-bentuk ruang imajinatif sampai diluar batas nalar. Bentuk yang memberikan presepsi berbeda dalam setiap kepala aktor. Selain itu kontruksi harus saling mengunci sebagai citra persatuan kekuatan, hingga tak ada celah untuk menghancurkan. Penyatuan tubuh-tubuh yang tadi terbelah dan chaos. Akhirnya sebuah pola terbentuk. Sebuah bentuk yang megah dan meneror. Seperti telunjuk raksasa yang menuding ke arah langit, dimana keinginan dan kehendak manusia berada atau mungkin menunjukan keberadaan Tuhan sebagai solusi pencarian tubuh-tubuh yang terbelah. Ada juga aktor yang mengartikan itu sebagai sebuah alat tempur, sebuah produk kebudayaan manusia yang membuat kerusakan dan akhirnya menghentikan takdir.

Itulah beberapa bagian dari pola pencarian kami hari ini. Proses pun dipungkas oleh uraian sutradara Nandang Aradea (NA) tentang citra tubuh urban manusia. Setelah itu kami membereskan kembali arena/ruang pencarian karena besok kami harus kembali melakukan proses yang sama. Dalung Nursery semakin larut dalam tubuh sepinya. (CK)

Latihan Imajinasi

Latihan Imajinasi : Kapas Terbang
Selamat pagi republik, matahari pagi ini terlihat malu-malu untuk mengatakan keberadaannya. Kali ini kita akan berbagi latihan teknik mengasah imajinasi sekaligus mengolah pernafasan. Tentu saja itu penting buat kalian yang ingin mendalami selak beluk seni peran baik itu film atau teater. Karena seorang aktor/aktris dituntut untuk memiliki ketahanan fisik yang prima disamping imajinasinya yang kuat. Terutama untuk mereka yang bergelut di bidang teater. Karena aktor teater berbeda dengan aktor film, mereka yang melakoni peran di panggung harus mempunyai kualitas tinggi.
Teknik Kapas Terbang
Teknik ini merupkan teknik dasar yang harus dilakukan para aktor/aktris. Tujuannya tidak lain untuk mengolah daya imajinasi serta mengolah pernafasan kita. Teknik latihan ini bisa dilakukan secara kelompok atau perorangan. Alatnya hanya berupa sebuah kapas kecil atau bisa juga kertas yang sangat ringan.

pertama,
aktor berdiri dengan tubuh rileks tanpa tegangan apapun. Biarkan otot dan otak kita beristirahat. Tariklah nafas melalui teknik pernafasan perut selama 3-4 kali tarikan, lakukan itu dengan perlahan. Rasakan aliran udara yang hangat dari rongga-rongga tubuh kita. Kemudian letakan tangan yang memegang kapas itu tepat di depan wajah kita. Jaraknya jangan terlalu lebar (satu jengkal dari hidung) kemudian tiuplah kapas itu hingga terbang. Tunggu sampai kapas itu jatuh ke lantai lalu ambil kembali dan tiup lagi. Terus ulangi sampai 8 kali hitungan.

Kedua
, tiup kapas seperti pada teknik pertama namun kali ini jangan tunggu kapas itu jatuh ke lantai, aktor harus mengejarnya dan meniupnya kembali. Jangan biarkan kapas itu jatuh ke lantai. Lakukan pola itu selama kurang lebih 15 menit atau tergantung kebutuhan.

Ketiga, Ulangi langkah pertama dan kedua tapi tanpa ada kapas sebagi properti. Alatnya adalah imajinasi kita sendiri. Bayangkan kalau di sekitar kita banyak sekali kapas-kapas berterbangan. Tugas aktor adalah memburu kapas-kapas itu dan jangan biarkan mereka jatuh.

Itulah teknik latihan dasar pernafasan dan imajinasi kali ini. Mudah-mudahan  lain kali kita bisa berbagi lagi, karena masih banyak teknik atau metode yang harus dilakukan guna mempersiapkan diri menjadi aktor/aktris handal. Wassalam (CK)

Workshop Teater Dengan Mas Busyro

TSI-Bebegig (Karya: Nandang Aradea)
tupi aura kalau dia adalah seorang aktor hebat yang dimiliki bangsa ini. Meskipun saya pribadi belum sempat menyaksikan bagaimana beliau beraksi diatas panggung, namun cerita dan referensi dari orang-orang sudah meyakinkan kami jika Dalung Nursery kedatangan jawara dari jagat teater Jakarta.

Nah, pasti kawan-kawan penasaran apa selanjutnya yang dilakukan Mas Busyro di Laboratory TSI itu? Baiklah, saya akan membagi pengalaman tentang workshop yang beliau berikan pada Enam aktor dan aktris TSI sekaligus beberapa teman dari Teater Kafe Ide Untirta. Materi workshop berkaitan dengan teks Bionarasi yang akan kami bawakan. Bagaimana tubuh manusia sebenarnya bisa mengulur waktu dengan gerak simultan dan halus, materi itulah yang diajarkan Mas Busyro pada kami.

Materi : Gerak Halus

Kami berkumpul di ruang latihan Dalung Nursery, setelah melakukan warming up terlebih dulu, Mas Busro mulai memaparkan teori tentang gerak halus dan simultan. Gerakan tubuh yang mengharuskan aktor melepaskan ketegangan dan membiarkan gerak mengalir tanpa ada perlawanan. Contohnya ketika seorang aktor mau jatuh setelah bangkit dari duduknya, Mas Busro mengintruksikan jangan ada perlawanan akan tetapi biarkan tubuh kita mengikuti arah tarikan gravitasi. Kemudian Mas Busro memeberikan contoh beberapa gerakan halus dari posisi duduk sampai berdiri dan duduk lagi. Semua gerak itu dijalin secara simultan tanpa ada jeda ibarat garis-garis yang membuat pola lingkar. Setelah itu kami mengulangi gerakan itu dan diharuskan mencari ritme sendiri dalam aliran geraknya.

Materi 2 : Membuat jarak dan perlawanan terhadap sebuah objek.

Workshop pun terus berjalan meski Dalung Nursery tengah mengahadapi malam. Kawan-kawan aktorpun masih tetap semangat. Materi selanjutnya adalah membuat jarak dan perlawanan terhadap sebuah objek. Media yang kami gunakan adalah sebatang bambu berukuran sedang dengan panjang sekitar 2 meter. Mas Busyro menyuruh salah satu dari kami untuk memegang media (seperti pola dalam anggar) kemudian berjalan dengan lutut ditekuk. Sangat terasa tarikan-tarikan otot pada pangkal betis ketika cara berjalan kami berbeda dengan cara jalan biasanya. Sementara kedua belah tangan yang memegang ujung bambu harus kokoh menahan beban bambu. Inti dari gerakan ini ada pada pandangan mata yang harus membentuk jarak dengan titik objek. Selain itu, pandangan mata harus menggambarkan adanya perlawanan. Kemudian aktor berjalan perlahan dengan tatapan mata masih terpokus sama titik objek. Situasi yang menyerahkan langkah pada ujung objek itu sendiri. Seolah-olah langkah kami itu dituntun oleh objek. Tentu saja situasi itu tidak mudah kami lakukan, tapi dengan senyum manisnya Mas Busyro terus menuntun kami.

Workshop pun diakhiri sekitar pukul 11 malam. Hari yang lumayan melelahkan tapi itu tidak seberapa dibanding dengan ilmu yang kami dapatkan. Tentu saja masih banyak materi yang akan Mas Busyro berikan dan semuanya akan berlanjut minggu depan. Karena beliau akan kembali datang ke Dalung Nursery . Terimakasih Mas Busyro! Bravo Teater Indonesia. (CK)