Pages

Kamis, 25 Oktober 2012

Emergency Bionarasi Tubuh Terbelah


Bionarasi Tubuh Terbelah
Matahari yang sama kembali bersiap untuk tenggelam. Kali ini ada yang lain di tempat kami berlatih. Dalung Nursery atawa sebuah Ruang Ajar Public seperti mendadak kaget. Tiba-tiba saja ruang sunyi itu terintrupsi oleh gemuruh suara mesin-mesin kendaraan. Selepas Maghrib bising itu semakin menjadi. Puluhan motor dan mobil berduyun-duyun menyambangi tempat “sakral” Dalung. Terlepas dari dipaksa atau tidak kedatangan mereka tak lain untuk menyaksikan pagelaran teater bertajuk “Emeregency: Bionarasi Tubuh Terbelah”.
Saya dan beberapa kawan aktor sudah bersiap dipojok arena (lapang bertabur daun bambu). Menatap satu persatu gerombolan calon penonton yang kebanyakan mahasiswa UNTIRTA itu. Ada perasaan haru dan rindu tiba-tiba menyelinap dari balik hati saya, mungkin juga dengan kawan yang lain. Betapa tidak, setelah hampir Dua Minggu kami terus berada jauh dari keramaian kini seolah kembali disambangi rutinitas normal. Kami melihat kehidupan yang benar-benar hidup. Kehidupan lain dari sisi kehidupan kami sendiri. Rindu itu terasa sedikit menemukan penawarnya.

Perlehatan pun dimulai setelah dibuka oleh prolog setengah tak resmi dari Wakil Gubernur Banten. Pembongkaran tubuh kami mulai dengan satuan tubuh komunal. Berjalan memasuki ruang imaji yang penuh dengan emergency. Awal yang indah ketika kami mencoba menawarkan sebuah perlawanan terhadap waktu. Tubuh kami tubuh durasi.  Membiarkan semua gerak, indera, hati, jiwa kami bertolak dengan jalanannya waktu. Hingga sampai pada terbelahnya tubuh komunal kami menjadi bagian yang terpisah mungkin terburai. Membangun konflik dengan tajam. Memproyeksikan kecurigaan dengan penyempitan ruang dan waktu. Konflik itu semakin diperbesar dengan hadirnya kontruksi-kontruksi bambu. Seolah sebuah sistim kaku yang lahir dari rahim manusia. Membentuk sebuah ruang yang asing namun sarat dengan tebaran moment yang kadang membangun sebuah situasi emergency. Dari sinilah cermin tindakan manusia, akan kah kita bisa terlepas dari sistem emergency atau sebaliknya tergilas oleh emergency yang diciptakan sendiri. Tentu saja bagiku tidak pernah menemukan jawaban yang pasti. Karena situasi itu hanyalah ujung dari gunung es dalam samudera.

Malam semakin larut. Semua berangsur menemui rutinitasnya masing-masing. Begitupun dengan kami. Malam ini banyak sekali hal yang harus dikerjakan. Diskusi dan evaluasi adalah santapan kami malam ini. Namun jauh dari itu ada harapan besar atas peristiwa malam ini. Semoga apa yang kami lakukan mendapat tempat dalam ruang perenungan para penonton. Terimakasih banyak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar