![]() |
| TSI-Bebegig (Karya: Nandang Aradea) |
tupi aura kalau dia adalah seorang aktor hebat yang dimiliki bangsa ini. Meskipun saya pribadi belum sempat menyaksikan bagaimana beliau beraksi diatas panggung, namun cerita dan referensi dari orang-orang sudah meyakinkan kami jika Dalung Nursery kedatangan jawara dari jagat teater Jakarta.
Nah, pasti kawan-kawan penasaran apa selanjutnya yang dilakukan Mas Busyro di Laboratory TSI itu? Baiklah, saya akan membagi pengalaman tentang workshop yang beliau berikan pada Enam aktor dan aktris TSI sekaligus beberapa teman dari Teater Kafe Ide Untirta. Materi workshop berkaitan dengan teks Bionarasi yang akan kami bawakan. Bagaimana tubuh manusia sebenarnya bisa mengulur waktu dengan gerak simultan dan halus, materi itulah yang diajarkan Mas Busyro pada kami.
Materi : Gerak Halus
Kami berkumpul di ruang latihan Dalung Nursery, setelah melakukan warming up terlebih dulu, Mas Busro mulai memaparkan teori tentang gerak halus dan simultan. Gerakan tubuh yang mengharuskan aktor melepaskan ketegangan dan membiarkan gerak mengalir tanpa ada perlawanan. Contohnya ketika seorang aktor mau jatuh setelah bangkit dari duduknya, Mas Busro mengintruksikan jangan ada perlawanan akan tetapi biarkan tubuh kita mengikuti arah tarikan gravitasi. Kemudian Mas Busro memeberikan contoh beberapa gerakan halus dari posisi duduk sampai berdiri dan duduk lagi. Semua gerak itu dijalin secara simultan tanpa ada jeda ibarat garis-garis yang membuat pola lingkar. Setelah itu kami mengulangi gerakan itu dan diharuskan mencari ritme sendiri dalam aliran geraknya.
Materi 2 : Membuat jarak dan perlawanan terhadap sebuah objek.
Workshop pun terus berjalan meski Dalung Nursery tengah mengahadapi malam. Kawan-kawan aktorpun masih tetap semangat. Materi selanjutnya adalah membuat jarak dan perlawanan terhadap sebuah objek. Media yang kami gunakan adalah sebatang bambu berukuran sedang dengan panjang sekitar 2 meter. Mas Busyro menyuruh salah satu dari kami untuk memegang media (seperti pola dalam anggar) kemudian berjalan dengan lutut ditekuk. Sangat terasa tarikan-tarikan otot pada pangkal betis ketika cara berjalan kami berbeda dengan cara jalan biasanya. Sementara kedua belah tangan yang memegang ujung bambu harus kokoh menahan beban bambu. Inti dari gerakan ini ada pada pandangan mata yang harus membentuk jarak dengan titik objek. Selain itu, pandangan mata harus menggambarkan adanya perlawanan. Kemudian aktor berjalan perlahan dengan tatapan mata masih terpokus sama titik objek. Situasi yang menyerahkan langkah pada ujung objek itu sendiri. Seolah-olah langkah kami itu dituntun oleh objek. Tentu saja situasi itu tidak mudah kami lakukan, tapi dengan senyum manisnya Mas Busyro terus menuntun kami.
Workshop pun diakhiri sekitar pukul 11 malam. Hari yang lumayan melelahkan tapi itu tidak seberapa dibanding dengan ilmu yang kami dapatkan. Tentu saja masih banyak materi yang akan Mas Busyro berikan dan semuanya akan berlanjut minggu depan. Karena beliau akan kembali datang ke Dalung Nursery . Terimakasih Mas Busyro! Bravo Teater Indonesia. (CK)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar