Pages

Jumat, 06 Juli 2012

Proses Bionarasi Tubuh Terbelah

Sisa hujan siang tadi masih terasa lembab hingga mencipta hamparan kabut tipis di Dalung Nursery. Di tempat itulah selama ini kami ditempa oleh ide-ide liar NA. Seorang sutradara yang militan dan penuh kejutan. Bayangkan selama hampir 2 bulan ini proses pencarian itu terus saja berkembang. Pola gerakan demi gerakan seperti air hujan yang deras, mengucur bercampur dengan keringat yang membasahai tubuh kami.
Seperti biasa, latihan dimulai malam hari karena pada siang hari keadaan cuaca di Dalung Nursery sangat tidak nyaman meski pada ujung hari kerap dihiasi oleh pemandangan senja yang lumayan membuat seseorang tergerak menuliskan puisi. Salah seorang aktor menyiapkan obor-obor yang terbuat dari batok kelapa dan sebagian lagi memeriksa kelayakan stage property untuk meminimalisir accident dalam proses pencarian tubuh. Obor yang berjumlah Sepuluh buah itu diletakan melingkar memebentuk garis imaginer sebagai batas arena pencarian. Sekilas kami terlihat seperti sekelompok orang yang sedang berlatih ilmu kanuragan, sekumpulan orang yang sedang melakukan sebuah ritual untuk menembus dimensi lain alam ini ketimbang terlihat seperti sekelompok aktor yang sedang berlatih teater. Tapi kami tidak pernah peduli, toh bagi kami teater adalah upaya pencarian ‘tubuh’ yang terbelah atau tercecer akibat hantaman keras gelombang modernisasi. Tubuh yang tak lagi utuh, tubuh yang mengalami distorsi tradisi dan dekontruksi moral yang parah. Oleh karena itu kami berada di sini (Dalung Nursery)

Pencarian tubuh itu kami mulai dengan warming up selama hampir Satu Jam. Setelah itu NA sang sutradara mulai memberikan intruksi pencarian. Kelima Aktor Teater Studio Indonesia (TSI) itu mulai bergerak. Properti yang kami gunakan sebagai panggung sekaligus ruang pencarian tubuh itu adalah kontruksi bambu yang dibentuk menyerupai daun bambu. Ukurannya lumanyan besar sekitar 1,5 meter untuk tinggi dan panjang mencapai 3 meter.

Untuk pencarian kali ini lebih menitik beratkan pada peleburan tubuh urban kami dengan pola pengendalian kehendak laku bambu. Bagaimana kami harus mampu berjalan seimbang saling mengerti dengan keinginan ruang (kontruksi bambu) yang terus bergerak sesuai kekuatan alamiah. Tahap pencarian kali ini adalah :

 Mengangkat Ruang
Kelima aktor berdiri melingkar dengan kaki kiri masing-masing aktor berada di belakang sebagai tumpuan beban sekaligus titik poros lingkaran. Sementara tangan kami memegang ujung kontruksi pada bagian belakangnya. Perlahan kami berusaha mengangkat kontruksi itu dengan keceptan yang konstan dan sinergi dengan alam. Kecepatan yang tidak boleh saling tabrakan dengan detak jantung dan udara dingin Dalung Nursery. Beberapa kali kami gagal karena kontruksi terus oleng ke kiri atau ke kanan. Tapi NA selalu memberikan pemahaman “Hindari keinginan untuk menguasai, tapi kalian harus saling memahami keinginan kontruksi”

Memutar Ruang
Kontruksi diputar menyerupai roda-roda. Sementara tubuh kami berusaha bersatu dengan urat-urat kontruksi, hingga meminimalisir nilai artifisial dari tubuh-tubuh manusia. Aktor terus berjalan tanpa arah. Membiarkan kontruksi membawa kami pada ruang-ruang lain. Sampai tertahan pada sebuah titik diantara lingkar cahaya obor. Dari titik itulah kami menentukan poros untuk memutar kontruksi. Putaran yang harus kami ikuti tanpa ada perlawanan apapun dari kehendak tubuh. 
  
 Membuat Pola Kontruksi
Ini bagian yang paling mengesankan bagi para aktor. Kami dituntut untuk membangun bentuk-bentuk ruang imajinatif sampai diluar batas nalar. Bentuk yang memberikan presepsi berbeda dalam setiap kepala aktor. Selain itu kontruksi harus saling mengunci sebagai citra persatuan kekuatan, hingga tak ada celah untuk menghancurkan. Penyatuan tubuh-tubuh yang tadi terbelah dan chaos. Akhirnya sebuah pola terbentuk. Sebuah bentuk yang megah dan meneror. Seperti telunjuk raksasa yang menuding ke arah langit, dimana keinginan dan kehendak manusia berada atau mungkin menunjukan keberadaan Tuhan sebagai solusi pencarian tubuh-tubuh yang terbelah. Ada juga aktor yang mengartikan itu sebagai sebuah alat tempur, sebuah produk kebudayaan manusia yang membuat kerusakan dan akhirnya menghentikan takdir.

Itulah beberapa bagian dari pola pencarian kami hari ini. Proses pun dipungkas oleh uraian sutradara Nandang Aradea (NA) tentang citra tubuh urban manusia. Setelah itu kami membereskan kembali arena/ruang pencarian karena besok kami harus kembali melakukan proses yang sama. Dalung Nursery semakin larut dalam tubuh sepinya. (CK)

2 komentar: